Empat kipas angin bantuan para donatur kini menemani salat, mengaji, dan hafalan Al-Qur’an para santri Pondok Pesantren Al Ummah serta masyarakat Aesesa.

NAGEKEO, NTT — Hampir dua bulan lamanya, masyarakat dan para santri Pondok Pesantren Al Ummah di Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur, menjalankan ibadah di masjid darurat dengan kondisi udara yang panas dan fasilitas serba terbatas setelah bangunan masjid utama mengalami kerusakan berat akibat gempa bumi.

Kini, suasana di Masjid Darurat Nurul Islam mulai terasa berbeda. Hembusan angin dari empat unit kipas angin yang dipasang oleh LAZ BATAM bersama relawan lokal menghadirkan kesejukan dan kenyamanan bagi masyarakat serta para santri yang setiap hari menggunakan masjid tersebut untuk beribadah.

Bantuan yang dipasang pada Kamis (15/10/2026) itu merupakan amanah para donatur LAZ BATAM dari Batam dan Kepulauan Riau, termasuk dukungan kemanusiaan dari Yayasan Adz Dzikra Villa Galaxy Bekasi Selatan, Jawa Barat.

Meski terlihat sederhana, kehadiran empat kipas angin tersebut menjadi sesuatu yang sangat berarti bagi masyarakat yang selama hampir dua bulan harus beradaptasi dengan kondisi tempat ibadah darurat.

Empat Kipas Angin, Kesejukan yang Lama Dirindukan

Cuaca panas di wilayah Flores menjadi tantangan tersendiri bagi masyarakat dan para santri. Terik matahari yang menyengat pada siang hari membuat aktivitas di ruang terbuka terasa berat. Bahkan ketika berada di dalam ruangan, udara panas masih terasa dan tubuh mudah berkeringat.

Kondisi tersebut turut dirasakan masyarakat saat melaksanakan salat berjemaah, pengajian, maupun kegiatan keagamaan lainnya di masjid darurat.

Melihat kebutuhan itu, Ketua LAZ BATAM, Syarifuddin, bersama relawan lokal membeli empat unit kipas angin beserta kabel sambungan listrik di toko setempat.

Seluruh perlengkapan kemudian dirakit dan dipasang langsung oleh tim di beberapa sisi masjid agar hembusan udara dapat menjangkau jemaah secara lebih merata.

Kipas angin ditempatkan di bagian depan, samping kiri, samping kanan, dan belakang ruang ibadah.

Setelah seluruh kipas berfungsi, suasana masjid terasa lebih sejuk. Masyarakat dan para santri pun dapat beribadah serta mengikuti kegiatan keagamaan dengan lebih nyaman.

Bagi mereka yang selama berminggu-minggu harus menghadapi panas di masjid darurat, hembusan angin sederhana itu terasa seperti fasilitas istimewa yang telah lama dirindukan.

Santri Lebih Nyaman Salat, Mengaji, dan Menghafal Al-Qur’an

Masjid Darurat Nurul Islam tidak hanya digunakan masyarakat sekitar untuk melaksanakan salat lima waktu, tetapi juga menjadi pusat aktivitas keagamaan para santri Pondok Pesantren Al Ummah.

Pesantren yang menyatu dengan kehidupan masyarakat setempat tersebut menjadi salah satu pusat pendidikan Islam di Kabupaten Nagekeo.

Setiap hari, para santri menggunakan masjid untuk salat berjemaah, membaca Al-Qur’an, berzikir, berdoa, murojaah, serta menyetorkan hafalan kepada para ustaz.

Sebelum kipas angin terpasang, udara panas menjadi salah satu tantangan dalam menjalankan kegiatan tersebut.

Kini, kesejukan yang dihasilkan empat kipas angin membantu menciptakan suasana lebih nyaman, sehingga para santri dapat mengikuti kegiatan ibadah dan pembelajaran Al-Qur’an dengan lebih tenang.

Kehadiran fasilitas sederhana itu juga membuat masyarakat lebih betah berlama-lama di masjid, baik untuk beribadah maupun mengikuti kegiatan keagamaan lainnya.

Ustaz Syaiful Rena: Sejak Ada Kipas, Rasanya Jadi Mengantuk di Masjid

Suasana kebahagiaan terlihat dari para santri yang memperhatikan kipas-kipas angin yang baru terpasang di berbagai sisi masjid.

Bahkan, salah seorang pengasuh pesantren, Ustaz Syaiful Rena, menyampaikan candaan kepada Ketua LAZ BATAM, Syarifuddin, yang membuat suasana menjadi hangat.

“Ustaz Syarif, sejak ada kipas ini, saya rasanya mengantuk terus kalau berada di masjid ini, Tadz,” candanya sambil tersenyum bahagia.

Ucapan sederhana tersebut menggambarkan betapa berartinya perubahan suasana di dalam masjid setelah kipas angin dipasang.

Bagi masyarakat yang terbiasa menghadapi panas, kesejukan dari kipas angin menjadi kenyamanan yang patut disyukuri.

Masjid Utama Rusak Berat, Bangunan Darurat Jadi Tempat Beribadah

Masjid Darurat Nurul Islam merupakan bangunan pengganti yang didirikan secara gotong royong oleh masyarakat bersama para relawan setelah masjid utama mengalami kerusakan berat akibat gempa bumi pada 15 Agustus 2026.

Menurut keterangan pengurus, kondisi bangunan masjid utama sudah tidak memungkinkan untuk diperbaiki sehingga diputuskan harus dibongkar dan kelak dibangun kembali.

Keputusan tersebut dibahas dalam rapat pengurus Masjid Nurul Islam pada Kamis malam (16/10/2026), yang turut dihadiri Ketua LAZ BATAM, Syarifuddin.

Dalam rapat tersebut, pengurus merencanakan pembongkaran bangunan masjid utama pada Sabtu (17/10/2026).

Menariknya, rapat malam itu berlangsung di masjid darurat dengan empat kipas angin yang baru saja terpasang.

Hembusan angin dari kipas tersebut memberikan kenyamanan bagi para pengurus dan masyarakat yang hadir untuk membicarakan masa depan tempat ibadah mereka.

Kisah Menegangkan Saat Gempa Mengguncang Masjid

Peristiwa gempa yang melanda Nagekeo pada 15 Agustus 2026 meninggalkan pengalaman yang sulit dilupakan oleh para santri dan pengasuh Pondok Pesantren Al Ummah.

Menurut penuturan pihak pesantren, gempa terjadi pada waktu subuh, ketika para santri bersama ustaz sedang berzikir setelah melaksanakan salat Subuh.

Tanpa diduga, guncangan kuat terjadi begitu cepat hingga membuat para santri berhamburan keluar masjid untuk menyelamatkan diri.

Dalam situasi tersebut, dua orang santri dilaporkan sempat tertimpa material bangunan yang runtuh akibat guncangan.

Beruntung, keduanya telah kembali mengikuti kegiatan belajar bersama teman-temannya.

Pengalaman tersebut menjadi pengingat betapa besar ujian yang dihadapi para santri. Namun, musibah itu tidak memadamkan semangat mereka untuk terus belajar, menghafal Al-Qur’an, dan menjalankan ibadah.

Amanah Donatur Batam, Kepri, dan Yayasan Adz Dzikra Bekasi

Pengadaan dan pemasangan empat unit kipas angin di Masjid Darurat Nurul Islam merupakan bagian dari rangkaian penyaluran bantuan kemanusiaan LAZ BATAM bagi masyarakat terdampak gempa di Kabupaten Nagekeo.

Bantuan tersebut bersumber dari kepedulian para donatur yang mempercayakan amanahnya melalui LAZ BATAM, baik dari Batam dan Kepulauan Riau maupun melalui sinergi bersama Yayasan Adz Dzikra Villa Galaxy Bekasi Selatan.

Sebelumnya, LAZ BATAM juga telah menyalurkan bantuan sembako kepada 50 warga penyintas gempa di Kampung Tonggurambang serta bantuan buku sekolah, susu, dan kebutuhan pangan bagi siswa dan tenaga pendidik MIS Nur Sa’adah Nangadero.

Kali ini, kepedulian para donatur diwujudkan melalui fasilitas penunjang kenyamanan beribadah masyarakat dan para santri.

Bantuan tersebut menunjukkan bahwa kebutuhan masyarakat pascabencana tidak hanya berkaitan dengan pangan dan tempat tinggal, tetapi juga menyangkut keberlangsungan pendidikan serta kenyamanan dalam menjalankan ibadah.

Kipas Angin Sederhana, Manfaat yang Terus Mengalir

Pada Kamis malam, yang bertepatan dengan malam Jumat, empat kipas angin itu mulai menemani aktivitas ibadah para santri.

Di bawah hembusan angin yang sejuk, mereka kembali melaksanakan salat berjemaah, mengaji, berdoa, murojaah, dan menyetorkan hafalan Al-Qur’an kepada para ustaz.

Bagi para donatur, bantuan sederhana ini diharapkan menjadi amal jariyah yang manfaatnya terus dirasakan selama fasilitas tersebut digunakan untuk mendukung kegiatan ibadah dan pendidikan Al-Qur’an.

LAZ BATAM menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada seluruh donatur yang telah mempercayakan penyaluran bantuan kemanusiaan, termasuk Yayasan Adz Dzikra Villa Galaxy Bekasi Selatan yang terus bersinergi dalam membantu masyarakat penyintas gempa Nagekeo.

Empat kipas angin mungkin bukan bantuan bernilai besar jika dilihat dari bentuk fisiknya. Namun, bagi masyarakat dan para santri yang selama hampir dua bulan beribadah di tengah udara panas, kehadirannya membawa kenyamanan dan kebahagiaan yang sangat berarti.

Di tengah bangunan masjid utama yang masih menunggu pembongkaran, kehidupan ibadah masyarakat terus berjalan.

Dari masjid darurat itu, lantunan ayat suci Al-Qur’an tetap terdengar, doa-doa terus dipanjatkan, dan semangat para santri untuk menghafal Kalamullah tidak pernah padam.

Masya Allah, tabarakallah. Semoga setiap hembusan angin yang memberikan kenyamanan bagi para jemaah, setiap sujud yang dilakukan dengan khusyuk, serta setiap ayat Al-Qur’an yang dilantunkan para santri menjadi bagian dari keberkahan dan pahala yang terus mengalir bagi seluruh donatur. Aamiin ya Rabbal ‘alamin.